Powered by Blogger.
RSS

Dasarnya Adalah Cinta dan Kendaraannya Adalah Rindu

”Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."” (Q.S. Al Mu’min :60)

Dalam ayat itu jelas sekali bahwa berdoa adalah perintah Allah. Doa adalah ibadah dan syarat diterimanya suatu ibadah adalah niat dan caranya benar. Mari luruskan kembali niat kita, bahwa kita berdoa kepada-Nya adalah dalam rangka memenuhi perintah-Nya, dalam rangka beribadah kepada-Nya. Mari benahi kembali doa kita, berdoa dengan cara yang benar. Dengan doa yang benar, sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Berkata Syaikhul Islam: “Doa dan dzikir adalah ibadah, dan syarat ibadah adalah ittiba’ (mengikuti) Nabi SAW, bukan mengikuti hawa nafsu dan bukan pula mengada-ngada membuat sesuatu yang tidak ada contohnya dari nabi SAW” (Majmu Fatawa, XXII/510-511)

Rasulullah qudwatuna, Rasulullah adalah teladan kita. Sudah seharusnya kita berdoa dengan doa-doa yang matsur, doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Ketika kedua mata kita bercucuran air mata dalam doa bersama dengan ustadz Arifin Ilham, atau Aa Gym atau ustadz Syaiful Islam atau ulama yang lain karena untaian doa mereka yang sangat menyentuh hati, sudah seharusnya lebih bercucuran lagi ketika kita berdoa sendiri dengan untaian doa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Terlebih lagi Rasulullah saw adalah kekasih Allah.

Makrifat Nabi Muhammad saw tentang Allah tidak tertandingi oleh manusia-manusia terdahulu maupun yang kemudian. Doa Rasulullah saw adalah irama yang meluahkan rasa cinta yang membara, perasaan yang menggelora, penuh rasa cinta atau takut, maupun penghargaan. Hakikatnya merupakan penghambaan yang sempurna, pengungkapan tentang makna-makna baru dari kesetiaan dan rasa cinta. Cinta Rasulullah saw kepada Rabb-nya terangkai dalam doa-doa yang memiliki kekuatan emosi beserta luapannya yang menggelora dalam bermunajat, tak kalah puitisnya dengan syair Dealova-nya

Bahkan seharusnya syair Dealova ini ditujukan untuk cinta tertinggi, Ilahi Robbi.

Aku ingin Kau tahu bahwa aku selalu memuja-Mu
Tanpa-Mu sepinya waktu merantai hati
Hanya diri-Mu yang bisa membuatku tenang
Tanpa diri-Mu aku merasa hilang dan sepi

Hati Nabi mulia ini senantiasa bergelora dengan perasaan penghormatan dan pengagungan kepada karunia Allah, sejak pagi, dan menerjemahkan hal itu dengan kalimat-kalimat yang menakjubkan:
”Ya Allah, kami hayati pagi ini, di mana pagi ini kerajaan milik Allah. Segala puji milik Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, dan pada-Nya tempat kembali” (HR. Muslim)

”Ya Allah, berilah aku pertolongan untuk selalu ingat kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan menyempurnakannya” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Bahkan sampai hendak tidur pun, cintanya tetap terwujud dalam doanya:
”Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu, menghadapkan wajahku ke hadirat-Mu, menyerahkan segala urusanku pada-Mu dan menyandarkan punggungku pada-Mu karena mengharap dan takut pada-Mu. Tidak ada tempat kembali dan tidak ada tempat berlindung kecuali hanya kepada-Mu. Aku beriman dengan sepenuh hati terhadap kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan (beriman) terhadap nabi-Mu yang Engkau utus.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dialah kekasih Allah. Seorang kekasih yang sangat merindui kekasihnya, seorang pecinta yang sangat mencintai kekasihnya, sehingga setiap desah nafas menyebut kekasihnya, berzikir kepada Allah. Begitu cintanya Rasulullah saw kepada Rabb-nya, bagaikan seorang kekasih yang sedang merayu rindu kekasihnya, setiap kejadian, setiap kesempatan, setiap langkah, setiap denyut jantung, setiap helaan nafas, setiap lafazh adalah dzikir kepada-Nya, Sebagaimana yang dikutip oleh Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Quran

”Nabi saw adalah makhluk yang paling sempurna dzikirnya kepada Allah.
Bahkan semua ucapannya adalah dzikrullah dan dalam konteks dzikrullah.

Perintahnya, larangannya, dan syari’atnya untuk ummat adalah dzikir darinya kepada Allah, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, janji-Nya dan ancaman-Nya adalah dzikir darinya kepada-Nya.
Pujiannya atas nikmat-nikmat-Nya, pengagungannya dan tasbihnya kepada-Nya adalah dzikir darinya kepada-Nya.vPermintaan dan do’anya kepada-Nya, rasa harap dan cemasnya adalah dzikir darinya kepada-Nya.Diamnya adalah dzikir darinya kepada-Nya dengan hatinya.Nabi saw selalu dalam dzikrullah di setiap saat dan dalam semua keadaannya. Dzikirnya kepada Allah berlangsung bersamaan dengan tarikan napasnya, baik dalam keadaan duduk, berdiri ataupun berbaring, dalam keadaan berjalan ataupun berkendaraan, dalam bepergian ataupun saat tinggal di rumah.” Dialah kekasih Allah. Bukankah kekasih senang menyebut nama kekasihnya.Bukankah kekasih senang membanggakan nama kekasihnya.Bukankah kekasih senang dibanggakan oleh kekasihnya.Semakin cinta, semakin banyak menyebut nama kekasihnya.“Ya Allah, sesungguhnya aku bermohon kepada-Mu untuk dapat selalu mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan amal perbuatan yang dapat mengantarkanku untuk mencintai-Mu. Ya Alah, jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cinta kepada diriku sendiri, keluargaku dan melebihi daripada air yang sejuk.” (HR. Turmudzi) Semoga, dengan memperbanyak berdoa dengan doa-doa yang matsur dari Rasulullah, semakin dapat melembutkan hati kita, semakin membuat kita khusyu’ dalam berdoa kepada Allah, sehingga kita termasuk dalam salah satu dari tujuh kelompok yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya yaitu seseorang yang mengingat Allah di tempat yang sunyi dan kedua matanya mencucurkan air mata.

”Ya Allah, berkenanlah Engkau membuat baik agamaku yang merupakan pemelihara urusanku, berkenanlah Engkau membuat baik duniaku yang aku hidup di dalamnya, berkenanlah Engkau membaikkan akhiratku yang merupakan tempat kembaliku. Berkenanlah Engkau menjadikan hidup sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, dan menjadikan mati sebagai istirahat bagiku dari setiap kejahatan.” (HR. Muslim)

Wallahu’alam bish showab.

**Referensi:
1. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Di Bawah Naungan Al Qur’an. Sayyid Quthb.
2. Riyadhus Shalihin. Imam Nawawi.
3. Munajat, Zikir dan Doa-doa Rasulullah SAW. Muhammad Al-Ghazali.
4. Doa Anak Muslim Sehari-hari Bersama Nabi. Aa Gym & Amir Kumadin.
5. Al Ma’tsurat. Hasan al Banna.

Oleh : Diana Oktaria
editor : string_064

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment